Tetap Bergaya Meskipun Pakai Sarung

Share:
Komitmen mengusung kebudayaan asli Indonesia mendorong Jogja Fashion Week 2014 untuk menyelenggarakan seminar seputar sarung dan cara bergaya dengan sarung. Seminar tersebut bertempat di Jogja Expo Center (JEC) dan menghadirkan Emran Nabawi dari Atlas Sarung, Desainer Lia Mustafa Ketua APPMI DIY serta Desainer Deden Siswanto perwakilan APPMI Pusat.

Acara seminar dibuka dengan presentasi sejara sarung di Indonesia mulai dari perbedaan sarung dengan kain hingga ragam perkembangan motif-motif sarung dari dulu hingga sekarang. Dulu sarung menjadi alat tukar dan mahar untuk acara pernikahan di beberapa daerah Indonesia. Sekarang 40 persen produksi sarung di benua Asia berasal dari Indonesia. Ciri khas sarung Indonesia memiliki tumpal.

Secara konstruktif sarung berbeda dengan tekstil biasa, teksturnya lebih kuat dengan lusi yang lebih rendah. Dulu motif sarung hanya berbentuk plaids kotak-kotak yang tek beraturan dengan warna hitam putih khas kain bali. Sarung yang berkualitas diproduksi dengan pakan lusi yang seimbang.

Sesi selanjutnya edukasi aplikasi sarung dalam dunia fashion dan tips mudah tampil modis dengan sarung oleh Deden Siswanto. Desainer ini kerap menyisipkan sarung dalam setiap pagelaran busananya.
Sarung bersiluet H yang berbentuk tabung dengan sisi dijahit, cara memakainya salah satunya adalah memilih motif sarung yang membuat tubuh kelihatan tinggi. Khusus bagai yang mempunyai perut buncit dan besar dapat mengenakan sarung pasi di bagian tulang pinggul agar jatuhnya pas.

Bersarung dan bergaya dengan sarung jauh berbeda dengan menjadikan sarung sebagai atasan brbentuk tunik atau luaran karena bagian tumpal akan hilang atau terpotong. Menurut Dden hal tersebut adalah persepsi yang salah meskipun bertujuan untuk melestarikan warisan budaya sarung. Sarung itu dikenakan melilit bagian bawah tubuh.

Sumber: Tabloid Nova

http://addurl.nu