Kolaborasi Tenun Donggala dan Tolaki ala Stephanus Hamy pada JFFF 2014

Share:
Totalitas Stephanus Hamy dalam mengangkat kekayaan wastra nusantara patut mendapatkan pujian. Meskipun ia masih terbatas oleh penyakit stroke yang menderanya sejak tahun 2011, kini ia kembali terlibat dalam perhelatan Fashion Extravagansa di Jakarta Fashion and Food Festival 2014. Sumatera to Sulawesi adalah tema yang diangkat oleh Hamy dalam pagelaran tersebut.

Hamy menampilkan 40 koleksi sebagai pembukaan peragaan busana pada hari pertama JFF 2014. Ia terkenal sebagai desainer yang konsisten menggunakan unsur etnik dalam garis rancangan yang modern, siap pakai dan simple.

Judul tersebut terangkum dalam 40 busana karya Hamy. Bahan-bahan dari karya Hamy menggunakan keindahan batik Minang dari kota Solok yang keseluruhannya diproduksi secara tradisional dengan teknik batik tulis. Selain itu, Hamy juga merubah tenun asal Sulawesi seperti tenun Tolaki, Mengkongga serta Button yang dikolaborasikan dengan tenun Walida dan Donggala.

Secara garis besar, aksi lipit (pleats ) menjadi benang merah dari keseluruhan koleksi busana yang muncul pada peragaan tunggal Hamy untuk kesekian kalinya pada acara JFFF 2014. Selain itu, gaya berlapis dengan balutan busana model two pieces  serta three pieces  menjadi pendukung dari tema Sumatera to Sulawesi. 

Sekuens pertama dibuka dengan Batik Minang yang memiliki ciri khas warna cerah dengan motif rumah Gadang menghiasi tiap helai kain. Nuansa tabrak warna dihadirkan lewat atasan model vest   berwarna merah berpadu terusan berwarna hijau lumut model pleats.  
Gaya color block juga ditampilkan dengan aneka atasan model v-neck , kerah victorian , serta punggung terbuka (backless ) yang beragam warna mulai dari kuning terang, biru toska, sampai oranye. 

Tetap mengusung karakter yang modern, ragam luaran model boxy  serta mantel tampil aplikatif berkat efek mengilap dari motif batik Minang. Gaun berpotongan longgar, blus serta atasan tunik panjang tampil mewah bersama bahan sifon berpotongan flare  dan juga sifon jenis crepes . 

Detail renda berpayet serupa hiasan kalung besar yang menawan sekaligus menyempurnakan keseluruhan koleksi Hamy yang berjumlah 20 busana pada sekuens pertama tersebut. 

Perkawinan dua motif yang berbeda antara tenun Donggala yang bermotif kotak-kotak dengan tenun Tolaki menggunakan teknik patch   simpel hadir dalam atasan model cape , blazer, mantel, serta celana model pipa. Aneka gaun serta blus berlengan lonceng tampil cantik serta elegan lewat paduan berbahan katun, lace , dan sifon. 

Hamy pun mengusung busana asli dari Sulawesi dalam interpretasi yang lebih modern serta siap pakai. Ragam baju kurung beraksen lipit berukuran midi yang dihias lengan manset menjadi keunikan tersendiri pada sekuens kedua. Aksi volume juga terlihat pada beberapa atasan model bustier, dan sackdress  bertali spaghetti dihias dengan korsase bentuk bunga beukuran besar pada bagian bahu. 

Sumber: TabloidNova.com