Inspirasi Ranah Minang Dalam Karya Stephanus Hamy

Share:

Rasa sakit yang terasa tak menghalangi semangat desainer Stephanus Hamy untuk berkarya. Perancang busana yang biasa disapa Hamy ini, dari pasca stroke sejak Juli 2011 lalu, kini Hamy menyajikan karyanya pada peragaan busana yang berlangsung di Jakarta. Ia menampilkan karya busana batik Minangkabau dalam kesempatan hari ulang tahun Persatuan Istri Purnawirawan (Perip) ke 50 tahun.

Melalui Ratna Djoko Suyanto, seseorang yang memberikan pembinaan dan perlindungan terhadap usaha batik asal kota Solok, Hamy diberikan keleluasaan dalam menyajikan batik. Kata Sabena yang menjadi juru bicaranya, Hamy merancang 25 pakaian, mulai dari pakaian kasual untuk sekedar minum teh sore dan gaun pesta malam. Setelah stroke, cara berbicara perancang berkulit putih ini belumlah lancar dan masih terbata-bata, sehingga Sabena lah yang membantu Hamy bicara.

Siluet dalam rancangan Hamy kali ini, gaun terusan, jaket, mantel panjang,  blazer, rok ploi, rok sarung yang dipadupadankan dengan rok midy, rok plist panjang, blus chiffon polos dengan aksen kalung renda payet atau ikat pinggang renda payet dan untuk gaun minum teh dan gaun malam berupa gaun panjang, blus, bustier dan rok lace hitam dengan payet.

Sabena menjelaskan bahwa gaya rancangan Hamy banyak disukai para wanita yang ingin menghadiri berbagai acara seperti untuk arisan, ngantor, pesta hingga kegiatan sosial.

Sebagai perancang yang sudah senior, Hamy merasa tertantang untuk dapat berkreasi dengan Batik Minangkabau yang terkenal dengan warna tanah liat karena batik tersebut menggunakan sumber pewarna alami seperti kulit kulit jengkol, rambutan, gambir, daun, kulit mahoni dan akar jerami. Model dalam peragaan busana hamy antara lain Dana Iswara (istri Menteri Keuangan, Chatib Basri) yang mengenakan blus atau baju kurung panjang berwarna merah magenta dipadukan dengna kain batik Minangkabau warna senada, Ratna Djoko Suyanto (istri Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Kuntari Nirwadar (istri Wamen Parisiwsata dan Ekonomi Kreatif), dan model lain-lainnya.

Sumber: TEMPO.CO